Revolusi Paradigma

CANDRA KIRANA #07 : BULAN KEMBAR Sejak 23 SEPTEMBER 2017

candra kirana 07
(Tumpak Saniscara Manis, wuku Tolu)

CANDRA KIRANA #07

*SASTRO WULAN*

Saat surutnya Mojopoit (Majapahit), Sang Maha Prabu Brawijaya VIII atau Sang Maha Prabu Batara I-Kling sempat menyebutkan Sastrowulan.

Dalam bahasa Sangsekerta, terdapat kebiasaan menghilangkan kata terdepan,
contoh:
1. Mbakyu menjadi Yu
2. Kangmas menjadi Mas
Dll.
Begitu juga dengan Sastrowulan, maka Sastrowulan akan dikenang menjadi nama Trowulan.

Menariknya, meskipun salah satu lambang Mojopoit adalah Matahari, namun pernyataan Sang Maha Prabu Brawijaya VIII bukan Sastro Suryo, tapi Sastro Wulan.

Dalam bahasa Jawa, Wulan adalah Bulan. Maka, jelas sekali keberadaan sesuatu yang sudah diprediksi oleh Sang Maha Prabu Brawijaya VIII bahwa akan muncul suatu keanehan pada Bulan sejak surutnya Mojopoit.

Keanehan Bulan yang pada masa itu memang belum terlihat, digambarkan sebagai suatu sastro atau sastra. Hal itu menunjukkan akan adanya irama lain yang lebih indah setelah Bulan menunjukkan keanehannya.

Bagi orang Jawa Kuno, Bulan dianggap sebagai kaki Kahyangan Cakra Kembang, tempat dari Sang Hyang Batara Kamajaya dan Sang Hyang Batari Ratih. Sehingga gambaran anomali tersebut dapat diterjemahkankan sebagai ” ...akan datangnya jaman kejayaan yang diawali dari munculnya Bulan“.

Sudah saatnya memang Bulan mulai kita amati dengan seksama, terlebih sejak munculnya Bulan Kembar mulai 23 September 2017 yang lalu. Dan hal ini sudah sangat sesuai dengan sabda dari Sang Maha Prabu Brawijaya VIII.

( Bersambung )

English Version:

Twin moons since September 23^th 2017

(Tumpak Saniscara Manis, wuku Tolu)

CANDRA KIRANA #07

*SASTRO WULAN*

After the decadence of Majapahit era was happen, Sang Maha Prabu Brawijaya VIII or Sang Maha Prabu Batara I-Kling had said about Sastrowulan

In Sangsekerta language, there was a habit to loose the front words, example:
1. Mbakyu became Yu
2. Kangmas became Mas
Etc
Also with sastrowulan, it would be named as Trowulan

Interestingly, although one of the Majapahit kingdom’s symbol was a sun, but the statement of Sang Maha Prabu Brawijaya is not about sastro suryo but sastro wulan.

In Javanese language, Wulan means moon. Thus,there would be clear about an object which was predicted by Sang Maha Prabu Brawijaya VIII that would be strange presence of the moon after the decadence of Majapahit

The strange of the moon at that time was not clearly obeserved, described as a sastro or sastra (word to describe a way or instructions ). That means another more beautifully pattern after the moon appeared its strange.

For the ancient Javanese people, moon known as a way to Khayangan Cakra Kembang, the palace of Sang Hyang Batara Kamajaya and Sang Hyang Batari Ratih. Furthermore, that anomy would be described as ” …. there would be a glory that started from the emergence of the moon

Its about time for us to observed the moon carefully, furthermore since the emergence of twin moons on September 23^th ago. And this phenomenon was similar to the statement of Sang Maha Prabu Brawijaya VIII

( To be Continued )

(Dilihat: 668 kali)

Comments Closed

Comments are closed. You will not be able to post a comment in this post.