Seri Selatan

Melacak Layar Jala Sutra

Dalam cerita pewayangan Babad Wana Marta, Aji Jala Sutra dipakai untuk menangkap Pandawa, saat itu Aji Jala Sutra digunakan oleh salah seorang patih dari bangsa kajiman yang bernama Ditya Kala Sapujagad. Dikisahkan, sosok pertama yang terperangkap dalam Aji Jala Sutra sampai tidak bisa bergerak sama sekali adalah Werkudoro, lalu diikuti oleh Punta Dewa dan kedua adik kembarnya Nakula dan Sadewa. Saat itu, Arjuna atau Bambang Permadi sedang diamankan oleh

Begawan Wilawuk, kemudian oleh Begawan Wilawuk diberikanlah minyak Jayengkaton kepada Arjuna sehingga dia dapat melihat perangkap Aji Jala Sutra tersebut. Berkat kekuatan dari minyak Jayengkaton, maka Arjuna mampu menghindari perangkap Aji Jala Sutra dan kemudian menolong saudara-saudaranya.

Jala adalah benda yang berbentuk rangkaian perangkap untuk menangkap sesuatu, dan sutra adalah sejenis kain halus. Kain sutra apabila digosok dengan plastik akan terjadi efek elektrostatik, sutra yang telah bermuatan ini kalau didekatkan ke leher maka akan membuat bulu kuduk berdiri. Efek serupa akan terjadi apabila kita memegang generator Van de Graff yang sedang dioperasikan. Efek seperti ini juga yang akan kita rasakan dengan sangat kuat jika kita mendekat ke suatu daerah yang sangat angker yang mengakibatkan berdirinya buku luduk kita.

Dalam pagelaran pewayangan, terutama wayang kulit, maka pasti akan dibutuhkan Geber atau layar putih, layar putih ini terwujud dari anyaman benang yang menjadi bentuk lembar kain. Hadirnya kain layar di pagelaran wayang kulit menunjukkan keberadaan Jala Sutra yang membatasi kita sebagai penonton wayang dengan dalang dan nayaga gamelan yang berada di belakang layar atau geber.

Seperti yang ditunjukkan pada video Nuswantara Code of Atlantis Empire #38 dan #39, terlihat ada gambar palsu atas Gunung Sadahurip dan Gunung Lalakon. Pada Gunung Sadahurip, ukuran puncaknya tidak berubah meskipun dilihat dari jarak yang berbeda tapi tetap dari arah yang sama, sedangkan di Gunung Lalakon terlihat keanehan dalam penghitungan sudut elevasi karena ada kecenderungan Gunung Lalakon terlihat mengecil saat didekati. Hal ini menunjukkan keberadaan Jala Sutra yang ada di antara kedua jarak tersebut, dan tentu saja jaring-jaring tipis ini digunakan untuk refleksi gambar supaya peradaban maju yang berada di Area 36 tidak dapat terlihat.

Aji Jala Sutra dipasang pada intensitas yang sangat lembut sehingga diperlukan pula kepekaan yang sangat tinggi, sedangkan kepekaan alat hanya untuk membuktikan keberadaan pola jala yang sangat halus ini. Hasil dari kepekaan alat hanya akan berpengaruh pada angka-angka yang dihasilkan namun tidak akan terlihat secara signifikan, maka ‘menyan’ memegang peranan penting untuk menangkap posisi layar tersebut.

Karena lebar batas Area 36 adalah 1 meter, maka apabila kita dapat berdiri di batas 2 Jala sutra ini, akan terlihat area yang ditutupi dengan Jala Sutra tersebut. Jala Sutra rata-rata dipasang pada jarak 20-30 cm dari garis batas, sehingga area tengah yang berada di dua batas Aji JJala Sutra adalah selebar 40-60 cm.

Rahayu _/_

Ki Tunggul Jati Jaya Among Raga

=======
versi lengkap dengan kualitas gambar Hi-Res dapat diunduh di >>
https://www.box.com/s/0dv3ga9wpc4nx1a066zr

Sumber: Group Greget Nuswantara – Turangga Seta

(Dilihat: 3673 kali)

Leave a Reply