Revolusi Paradigma

Mengapa Bulan Dapat Relatif Tetap

Bulan dikatakan tidak mempunyai Atmosfer, sehingga suhu di Bulan tidak Mengapa-Bulan-Dapat-Relatif-Tetap | Turangga Setaakan merata. Daerah di Bulan yang terkena sinar Matahari akan menjadi bagian yang ekstrim panasnya sedangkan bagian yang tidak terkena sinar Matahari akan sangat ekstrim dinginnya.

Menurut penelitian NASA, suhu Bulan terpanas sekitar 106,6° C dan suhu terdingin sekitar -183,3° C, dengan suhu se_ekstrim ini tentunya akan terjadi perbedaan daerah yang memuai dan yang mengkerut. Di daerah yang terkena panas akan memuai dan daerah yang tidak terkena sinar Matahari akan mendingin sehingga cenderung mengkerut.

Adanya perbedaan daerah yang memuai dan mengkerut akan mengakibatkan perbedaan gaya-gaya yang bekerja di permukaan Bulan. sehingga seharusnya terjadi keretakan (crack) di daerah yang mendingin karena mengkerut dan terkena efek ekspansi dari daerah yang memuai. Efek ini akan membuat Bulan cenderung berbentuk benjol bukan bulat dan permukaannya akan cenderung berubah-ubah.

Dapat kita bayangkan apabila terdapat Besi dengan sisi kiri bersuhu 100° C dan di sisi yang kanan bersuhu -183° C, maka Besi tersebut yang pada posisi awalnya stabil kemudian akan melengkung. Padahal material di Bulan terdiri dari Silika 45.4 %, Alumina 14.9 %, Lime 11.8 %, Besi (I) Oksida 14.1 %, Magnesia 7,5 %, Titanium Dioksida 3,9 %, Natrium Oksida 0,6 %. Bahan-bahan tersebut belum akan melebur pada suhu 106,6° C, tapi dapat memuai di suhu itu, dan akan mengkerut di suhu -183.3° C.

Sehingga bentuk Bulan yang relatif stabil morfologi permukaannya menjadi sangat aneh. Kecenderungannya efek pemuaian dan pengkerutan yang cukup ekstrim akan membuat permukaan Bulan akan sering berubah morfologinya, maka seharusnya permukaan Bukan akan sering terlihat adanya lipatan-lipatan baru yang muncul sesuai dengan datangnya panas

Rahayu _/\_

 

(Dilihat: 882 kali)

Leave a Reply