Seri Selatan

Perubahan Getaran Sasradara Di Garis Batas Area 36

Getaran adalah suatu gerak bolak-balik di sekitar titik kesetimbangan, getaran dapat menghasilkan bunyi, dan bunyi yang beraturan atau berirama disebut dengan istilah “nada”, sedangkan untuk bunyi yang tidak beraturan disebut suara atau noise belaka. Getaran yang periodik dalam satuan waktu bisa dihitung, dan kita mengenalnya dengan istilah frekwensi (jumlah getaran per detik); sementara rentang jarak waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan 1 getaran disebut dengan perioda. Perioda berbanding terbalik dengan frekwensi, dibahasakan dengan rumus T = 1/f.

Dalam bahasa Sangsekerta; ‘Sasra’ berarti ‘Seribu’, dan ‘Dara’ berarti ‘Putih’ atau dalam pemahaman yang lain juga berarti ‘Burung Dara’, jadi yang dimaksudkan dengan Getaran Sasradara adalah bunyi getaran yang ditimbulkan oleh suara 1000 burung dara.

Dalam cerita pewayangan terutama wayang kulit, dalang yang masih memegang pakem seringkali mmengatakan : “…Leng-lenging driya mangu-mangungkung lir manguswa kang layon, mbrengengenging suksma kadya sasradara mbrengengeng…”, yang artinya : ‘dalam kondisi yang sangat sunyi yang terdengar hanya suara suksma sejati yang suaranya seperti kicauan seribu burung dara yang mendenging.’

Di sini ditegaskan bahwa yang dimaksud dengan suara Sasradara adalah suara dari bagian terdalam kita yang merupakan getaran petunjuk dari suatu alam yang mengendalikan manusia. Getaran Sasradara bagi yang mampu melakukan pembangkitan dilatasi waktu atau memperlambat getaran tadi dengan laku khusus akan terdengar seperti ribuan suara yang kalau dicermati merupakan petunjuk-petunjuk khusus yang akan terdengar berbeda. Getaran sasradara ini akan berubah ketika kita melangkah mendekati suatu wilayah yang terdapat Aji Jala Sutra, karena efek keberadaan Jala Sutra akan mengganggu pancaran dari getaran Sasradara dari suatu tempat, sehingga efek perubahan nada getar sasradara tadi dapat dijadikan patokan untuk melacak keberadaan garis batas Area 36.

Getaran sasradara dapat dihasilkan (dibuat) dengan memodifikasi suara yang kemudian dipercepat, getaran suara tersebut harus disingkronisasi dengan suara yang kita dengar di saat kondisi hening, setelah paling tidak mendekati suara Sasradara yang asli maka hasil olahan suara tersebut kita putar di dekat garis batas Area 36 dengan intensitas yang cukup supaya pengeras suara dapat menangkap getaran Sasradara tersebut.

Pola perubahan Getaran Sasradara tadi dapat kita lacak dengan menggunakan program pengolah suara WaveLab atau program lain yang biasa digunakan untuk mastering lagu. Pola pengukuran perubahan dengan cara melebarkan gelombang asli dan gelombang dari hasil rekaman di lapangan. Perubahan getaran Sasradara akan terlihat jelas pada frekwensi getar dan perioda getarnya sedangkan intensitas cenderung akan ada perubahan karena jarak, maka untuk pengujian ini perlu dilakukan di tempat yang sangat sepi atau jauh dari masyarakat, sehingga noise yang dihasilkan akan menjadi sangat rendah. Waktu pengukuran dilakukan sesuai pakem pedalangan yaitu saat “surem-surem diwangkara kingkin” atau saat remang-remang dan suara alam sangat hening.

Rahayu _/_

Ki Tunggul Jati Jaya Among Raga

=======
versi lengkap dengan kualitas gambar Hi-Res dapat diunduh di >>
https://www.box.com/s/9yoit5eyxol5dwd663ch

(Dilihat: 1425 kali)

Leave a Reply